SULTENG, GarudaPost.id – Pergantian tahun baru Hijriah 1448 H menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri sekaligus meneladani nilai-nilai hijrah Rasulullah SAW dalam memperkuat kepedulian sosial. Demikian disampaikan Wakil Ketua 2 DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, H. Syarifudin Hafid, melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu (13/6/2026).
Menurut politisi yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Morowali ini, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat secara fisik. Dalam konteks kehidupan modern, hijrah dapat diartikan sebagai perubahan menuju kondisi yang lebih baik.
“Menjadi momentum untuk mengevaluasi diri, untuk berhijrah menjadi lebih baik. Berhijrah dari kemalasan menjadi lebih produktif, berhijrah dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia, berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran spiritual. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam konteks berhijrah, sebagaimana keteladanan Rasulullah SAW,” ujar Syarifudin.
Relevansi Nilai Hijrah di Era Digital
Syarifudin menegaskan bahwa di tengah percepatan perkembangan teknologi dan perubahan zaman, nilai-nilai hijrah sangat relevan untuk diterapkan. Beberapa bentuk penerapannya antara lain menggunakan teknologi untuk kebaikan, memperdalam ilmu agama, menyebarkan konten positif, serta menghindari penyebaran hoaks, fitnah, dan berbagai hal lain yang dilarang dalam Islam.
“Semangat hijrah mengajarkan pentingnya membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan kontribusi positif bagi masyarakat. Karena itu, Tahun Baru Hijriah dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan,” tegasnya.
Momentum Hijrah untuk Menjadi Lebih Produktif
Lebih lanjut, Syarifudin menjelaskan bahwa momentum hijrah merupakan titik balik spiritual untuk bertransformasi dari kebiasaan pasif menjadi lebih produktif. Ia menekankan bahwa perubahan ini bukan sekadar soal penampilan, melainkan pembaruan niat dan manajemen waktu agar setiap aktivitas bernilai ibadah serta membawa dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan.
“Momentum hijrah adalah transformasi dari kondisi pasif menjadi lebih produktif dan bermanfaat. Dalam konteks membangun daerah, semangat ini diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan lama seperti apatisme dan individualisme menuju kontribusi nyata, inovasi ekonomi, dan solidaritas sosial untuk memajukan lingkungan sekitar,” tuturnya.
Pesan Khusus bagi Aparatur Sipil Negara
Mengakhiri pernyataannya, Syarifudin Hafid menyampaikan pesan khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurutnya, momentum hijrah bermakna transformasi dari budaya kerja konvensional menuju birokrasi yang lebih adaptif, melayani, dan berakhlak.
“Ini adalah titik balik untuk memperbarui niat, meningkatkan kedisiplinan, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital demi pelayanan publik yang prima,” ujarnya.
Dengan semangat hijrah, Syarifudin mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menyatukan hati, memperkuat kebersamaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan demi membawa Sulawesi Tengah ke arah yang lebih baik.
“Mari kita satukan hati, perkuat kebersamaan dan nilai-nilai persatuan untuk membawa Sulteng ke arah yang lebih baik, masyarakat yang sejahtera dan bermartabat,” pungkasnya.

















