Garudapost.id-Wahai/Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai secara berkesinambungan gelar kegiatan keagamaan guna memperkuat mental, spiritual, dan karakter Warga Binaan. Program ini dilaksanakan secara inklusif pada Kamis (9/7) malam melalui Yasinan bagi Warga Binaan Muslim dan Jumat (10/7) melalui ibadah online gabungan Rutan dan Lapas se-Indonesia secara virtual dari Gereja Ebenhaezer bagi Warga Binaan Kristiani.
Yasinan, tausiah, dan doa bersama berlangsung di musala Lapas bagi Warga Binaan Muslim bersama Ketua Majelis Ta’lim At-Taqwa, La Joi. Ia menegaskan pendekatan spiritual ini sangat penting untuk menyentuh hati Warga Binaan agar mereka mengintrospeksi diri dan memperbaiki akhlak selama menjalani masa pidana.
“Melalui pembacaan Surah Yasin dan kajian keagamaan yang dilakukan secara rutin, kami berharap mereka meningkatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan,” harap La Joi.
Salah seorang Warga Binaan berinisial W mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan mengikuti pembinaan keagamaan di Lapas Wahai. “Yasinan membuat saya merasa lebih tenang dan lebih dekat kepada Allah Swt. Saya belajar untuk memperbaiki diri, menyesali kesalahan di masa lalu, serta bertekad menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali berkumpul bersama keluarga dan masyarakat,” janjinya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menjelaskan pemenuhan hak beribadah diberikan secara adil tanpa diskriminasi untuk membangun kepribadian yang taat hukum. “Pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan keterampilan, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter melalui pendekatan spiritual. Ketika nilai-nilai keagamaan terus ditanamkan, kami berharap Warga Binaan memiliki kesadaran untuk berubah, memperbaiki diri, dan siap kembali menjadi bagian positif di tengah masyarakat,” harapnya.
Melalui pembinaan keagamaan bagi Warga Binaan Muslim maupun Kristiani, Lapas Wahai terus tunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang religius, humanis, harmonis, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Diharapkan, proses pembinaan berjalan optimal menuju tujuan utama Pemasyarakatan, yakni reintegrasi sebagai insan yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

















